Ekonomi Bangkit Lewat Lorong Bulo

Latar belakang sebagai arsitek, Walikota Makassar Moh Ramdhan “Danny” Pomanto terus melakukan berbagai inovasi dalam menata kota yang berpenduduk kurang lebih 1,8 juta jiwa ini menjadi dua kali lipat lebih baik. Baginya, tak ada yang tak mungkin jika dilandasi dengan niat tulus untuk kesejahteraan rakyat termasuk mewujudkan program yang sudah direncanakan.

Seperti yang saat ini sedang dalam perancanaan yakni program pengembangan perekonomian rakyat, lorong produktif berbasis lorong atau Badan Usaha Lorong (Bulo). Danny mengatakan, Bulo merupakan program berkelanjutan usai menata sebagian besar lorong dengan konsep lorong garden (longgar). Kurang lebih ada 7.520 lorong berada di luas wilayah sekitar 175,77 kilometer persegi (km2) di Makassar yang telah ditata. Menurutnya, Bulo dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk menopang perekonomian Makassar utamanya usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Sesuai rencana, Bulo akan dikelolah langsung oleh warga yang notabennya bagian dari sel kota. Hasil produksinya akan dibeli langsung oleh perusahaan dibentuk Pemkot Makassar, yakni PT. sayur Makassar. Selanjutnya, hasil penjualan tanaman produktif akan dimasukkan ke bank untuk di depositokan demi membiayai pendidikan anak-anak lorong dan menjadi modal pemberdayaan UMKM melalui Makassar Incorporate.

PT.Sayur Makassar berperan membeli hasil produktif yang kemudian dijual kembali ke pasar-pasar dan hasil penjualannya akan dikelola oleh Makassar Incorporate untuk deposito menggunakan sistem pengelolaan keuangan koperasi. Selain itu juga dapat berfungsi untuk mengendalikan inflasi daerah. Melalui Kantor Ketahanan Pangan nantinya, dengan topangan anggaran pokok 2017 akan datang serta dana bantuan CSR dari sejumlah perusahaan swasta, bibit tanaman akan diberikan ke masyarakat secara gratis. Seperti tanaman bernilai tinggi dan berdaya tahan lama seperti cabe.

Cabe sengaja dipilih sebagai tanaman produktif untuk dikelola masyarakat. Alasannya, tahan penyakit, hasil panennya bisa capai 4 kg dan harganya mahal, tidak bandel dan tidak manja juga. Orang orang pertanian juga bilang lombok baiknya,” ucapnya. “Kenapa RT/RW kita perkuat, karena akhirnya nanti jadi satuan lorong. Bulo itu bagaimana meningkatkan penghasilan secara kolektif. Penerima bibit diprioritaskan yang punya longgar dulu, yang sudah memperbaiki lorongnya,” jelas Danny. Progress longgar sendiri telah mencapai 65% berkat partisipasi masyarakat di 143 wilayah kelurahan dan 14 wilayah kecamatan. Saat Danny meninjau salah satu wilayah di Kecamatan Tamalate, masyarakatnya mulai menanam buah markisa, anggur dan terong. Pada program Bulo ini akan melibatkan unsur masyarakat, seperti mahasiswa, ahli pertanian, dan badan riset dari Bappeda pengelolaan secara keseluruhan termasuk pengelolaan secara keseluruhan termasuk sistem perairan terkonsep. “Kita targetkan 80% kemudian kita produktifkan kan itu intinya lorong. Ini konsep baru, Indonesia punya badan usaha desa dan badan usaha rakyat Makassar. Kita punya badan usaha lorong itu sedikit berbeda karena itu melibatkan komunitas spesifik komunitas marginal. Tahun depan kita sudah mulai,” kata Danny.

(SUMBER – Budi Santoso SINDO Selasa 2 Agustus 2016)