Ridwan Kamil, Angkat Kesejahteraan Masyarakat Melalui Kredit Melati

nikson-nababan-crop(1)1
Menjadikan Tapanuli Utara Sebagai Lumbung Pangan dan SDM
August 8, 2016
17329_15088_OKE-IMG_3265
Ciptakan Generasi Unggul untuk Masa Depan Sibolga
August 8, 2016

Ridwan Kamil, Angkat Kesejahteraan Masyarakat Melalui Kredit Melati

Ridwan-Kamil-KalamPosCom-700x400

Sejak kepemimpinan Ridwan Kamil dan Oded M Daniel, sejumlah inovasi terus bermunculan. Gebrakan menata taman, PKK, tata kota, serta membangun ekonomi kerakyatan, mendapat respons positif dari semua pihak. Tak heran, kota ini banyak menerima apresiasi dan penghargaan skala nasional dan internasional.

Di awal 2015 lalu, Kota Bandung pun kembali melahirkan inovasi yang membuat semua pihak mengangkat jempol. Hal itu seiring dengan hadirnya pinjaman tanpa jaminan (agunan) khusus bagi warga Kota Bandung yang langsung dikelola oleh PD BPR, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkot Bandung. Bedanya, program pinjaman bernama ‘Kredit Melati’ singkatan dari ‘Melawan Rentenir’ itu berhasil membebaskan 2.500 warga menengah bawah dari jeratan rentenir sejak program itu diluncurkan. Saat berbincang dengan KORAN SINDO, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengaku, ide lahirnya kredit melati ini tak terlepas dari keinginannya memberikan yang terbaik kepada warga ekonomi lemah. Emil juga sering menerima keluhan dari  para pedagang kecil, dimana mereka terjerat rentenir saat terdesak dan membutuhkan modal usaha, Rentenir itu tidak menyusahkan. Dari segi proses, asal ada lapak dikasih. Tapi memberatkan dari sisi bunga. Mereka (PKL) itu seperti hidup segan, mati tak mau. Makanya kami berfikir perlu ada instrument sebaik bank, namun mudah. Jadi kami lahirkan Kredit Melati,” tuturnya.

Orang nomor satu di Kota Bandung itu juga menargetkan, pada 2016 ini jumlah nasabah Kredit Melati bertambah menjadi 100.000 orang. Dengan mengkolaborasikan konsep ekonomi Pancasila, di dalamnya yakni masyarakat yang hendak meminjam bisa membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang. “Jadi bila ada 1 macet pembayaran, empat anggota lainnya bisa membantu. Nah sejak kredit ini dihadirkan, sesuai laporan tidak ada yang mengemplang. Dibulan 8 atau 9 semuanya sudah lunas,” katanya.

Emil menambahkan, untuk urusan ekonomi Pemkot pun menyalaraskan agar bukan hanya modal yang mudah didapat, tetapi prosedur izin usahanya pun bisa lebih cepat. Untuk merealisasikan itu, Pemkot Bandung tahun ini meluncurkan Gadget Mobile Application for Lisence (Gampil).

“Mereka (pelaku usaha kecil) tinggal mengaksesnya melalui smarthphone. Jadi di Kota Bandung itu usaha dibawah Rp500 juta tidak perlu pakai izin, cukup melapor. Ini yang kami kawinkan, satu izinnya tak dipersulit, dua modal dipermudah dengan adanya kredit ini,” ungkapnya.

“Harapan saya pola pemberian modal tanpa jaminan ini bisa diterapkan di seluruh daerah di Indonesia. Ini jadi bukti dan menjawab teori perbankan bila pinjaman itu harus ada jaminan nah di Kota Bandung memakai teori sosial seperti ini,” tandasnya.

(SUMBER : DILA NASHEAR – SINDO 21/07/2016)