Menjadikan Tapanuli Utara Sebagai Lumbung Pangan dan SDM

Nikson Nababan mempunyai keinginan mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Untuk itulah sejumlah program sedang disiapkan. salah satunya mewujudkan masyarakat yang sejahtera lewat sektor pertanian. Untuk mewujudkan program tersebut, Nikson Nababan menciptakan inovasi baru dan pertama di Indonesia. Program tersebut yakni pemberian modal pupuk kepada petani. Menariknya petani diperbolehkan membayar pupuk setelah panen. Bukan itu saja pemerintah juga memberikan pendampingan yang baik terhadap petani agar hasil pertanian oleh sejumlah pihak menjadi alasan pemerintah menciptakan inovasi baru pemasaran yakni lewat sistem lelang.

Nikson Nababan bertekad menjadikan Tapanuli Utara sebagai kawasan industri pertanian. Tekad itupun akan dibuktikan dengan menjamin ketersediaan bibit unggul dan pupuk yang baik. Nikson juga ingin membangun pemerintahan yang bersih dan transparan serta berorientasi pada pelayanan public dengan system e-government. Atas dasar itulah Pemkab Taput saat ini terus melakukan pengembangan pertanian. Salah satunya dengan inovasi pembangunan satu hectare lahan setiap satu desa sebagai lahan percontohan. Pemerintah juga memberikan jaminan ketersediaan pupuk tepat waktu, tepat harga, tepat mutu, tepat jumlah, tepat tempat, dan tepat jenis.

Lewat program yang inovatif tersebut pemerintah juga mengaplikasikan peran untuk hadir bersama petani dalam memecahkan persoalan-persoalan di bidang pertanian, secara khusus untuk kebutuhan pupuk. Pada awalnya pemerintah menargetkan proses pengembalian modal pembayaran pupuk mulai 21 Juli 2016 hingga 12 Desember 2016. Namun sejak Mei 2016, sebagian petani sudah mulai mengembalikan modal pembayaran pupuk. Sebelumnya petani menghasilkan 6,5 ton per hectare (ha). Namun saat ini mengalami peningkatan rata-rata 8,2 ton per ha. Hal itu menunjukan bahwa penyaluran pupuk sudah tepat sasaran, tepat waktu tepat jenis dan kebutuhan seta tepat guna.

Sementara untuk memberikan jaminan harga terhadap sejumlah produk pertanian khusus-nya cabai, Nikson Nababan membuka pasar lelang pertanian, Pemkab Taput melaksanakan program lelang cabai ini ada di dua pasar tradisional yakni di Siborongborong dan di Tarutung. Pelelangan cabai ini dikerjakan setelah membentuk kelompok kerja.

Program pelelangan hasil pertanian cabai ini dilaksanakan dengan melibatkan enam kelompok kerja. Kelompok kerja pertama bertanggung jawab dengan penyediaan hasil pertanian yang akan dilelang. Kelompok kerja kedua bertanggungjawab untuk pelaksanaan pelelangan. Kelompok kerja ketiga bertanggungjawab untuk menghadirkan calon pembeli, pedagang grosir, pengecer dan eksportir, Lalu, kelompok kerja keempat bertanggungjawab untuk melakukan advokasi dan mediasi pada setiap ada permasalahan yang timbul dari akibat kegiatan pelelangan. Kelompok kerja kelima bertanggungjawab untuk melakukan pengamanan di lokasi pelelangan. Serta kelompok keenam bertanggung jawab untuk melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan pelelangan.

Nikson Nababan melakukan inovasi itu mengacu kepada UU No19/2013 tentang perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Terutama Pasal 48 ayat 1 dan 2. Bukan itu saja, Nikson Nababan juga fokus membenahi sektor pendidikan. Dia menciptakan pola pengembangan pendidikan gratis mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah lanjutan tingkat keatas (SLTA). Serta menyeragamkan kualitas pendidikan di daerah-daerah pelosok dengan perkotaan. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah memberikan insentif kepada para guru yang berkerja di pelosok. Insentif diberikan agar guru yang mengabdi di pelosok tetap berkerja maksimal dan tidak mengajukan perpindahan ke daerah perkotaan.

Membangun Desa Harus Sistematis

Menelusuri lembah, jalan berliku, jurang, dan naik turun gunung merupakan aktivitas rutin yang sudah melekat bagi Nikson Nababan. Bupati Tapanuli Utara (Taput) yang dilantik 16 April 2014 ini hampir setiap pekan meluangkan waktu mengunjungi daerah-daerah pelosok, terpencil, dan terisolir. Termasuk juga daerah terluar Taput.

Nikson mengatakan pada dasarnya bumi Taput merupakan bumi yang sangat kaya. Namun untuk dapat mengekplorasi dan mengekspolitasi kekayaan alam itu dibutuhkan paradigma baru pembangunan. Perubahan dan pembaruan dapat dilakukan jika pemerintah, pemangku kepentingan serta masyarakat dapat berkerjasama dengan baik. Untuk itulah kita membangun pola pengembangan yang sistematis, terukur dan mampu memberikan kontribusi kepada warga, “jelasnya. Nikson menyontohkan, salah satu pembangunan akses ke daerah-daerah pelosok. Setelah petani diberikan pola pembayaran pupuk setelah panen, pemerintah lantas memberikan jaminan harga untuk hasil pertaniannya.

Serta mengubah pola intervensi pemodal terhadap petani. “Jadi pemerintah lewat pasar lelang sudah menentukan harga minimal untuk cabai. Karena itu, para pengumpul hasil petanian tidak sesuka hati menentukan harga,” paparnya.

(SUMBER : BARINGIN LUMBAN GAOL- SINDO 28/ JULI/2016 )