Finlandia, Sekolah 5 Jam Tanpa PR & Ujian Nasional

Di Finlandia, Sekolah 5 Jam Tanpa PR & Ujian Nasional. Berikut fakta-fakta mengenai pendidikan di Finlandia

Screenshot_28

  1. Di Finlandia, anak-anak baru boleh bersekolah setelah berusia 7 tahun.
    Di Finlandia anak-anak baru boleh mulai bersekolah ketika berumur 7 tahun.  Awal yang lebih telat jika dibandingkan negara-negara lain itu justru berasal dari pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan hingga mereka kelas 4 SD. Hingga jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran. Pelajar di Finlandia sudah terbiasa menemukan sendiri cara pembelajaran yang paling efektif bagi mereka, jadi nantinya mereka tidak harus merasa terpaksa untuk belajar. Maka dari itu meskipun mulai telat, tapi pelajar umur 15 tahun di Finlandia justru berhasil mengungguli pelajar lain dari seluruh dunia dalam tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA). Itu membuktikan faedah dan efektivitas sistem pendidikan di Finlandia.

  1. Cara belajar ala Finlandia : 45 menit belajar, 15 menit istirahat.
    Tahukah kamu bahwa untuk setiap 45 menit siswa di Finlandia belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15 menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru. Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti bahwa toh sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain. Di samping meningkatkan kemampuan fokus di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga sebenarnya memiliki manfaat kesehatan. Mereka jadi lebih aktif bergerak dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Bagus juga kan jika tidak membiasakan anak-anak dari kecil untuk terlalu banyak duduk.
  1. Semua Sekolah Negeri di Finlandia bebas dari biaya. Sekolah Swasta pun diatur secara ketat agar tetap terjangkau.
    Sistem pendidikan di Finlandia dibangun atas dasar kesetaraan. Bukan memberi subsidi pada mereka yang membutuhkan, tapi menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua.  Sekolah swasta pun diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Saking bagusnya sekolah-sekolah negeri di sana, hanya terdapat segelintir sekolah swasta yang biasanya juga berdiri karena basis agama.
  1. Finlandia adalah negara pertama dengan program makan siang gratis untuk semua siswa.
    Pemerintah Finlandia juga menyediakan fasilitas pendukung proses pembelajaran seperti makan siang, biaya kesehatan, dan angkutan sekolah secara cuma-cuma. Memang sih sistem seperti ini mungkin berjalan karena kemapanan perekonomian Finlandia. Tapi jika memahami sentralnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan bangsa, seharusnya semua negara juga berinvestasi besar untuk pendidikan. Asal gak akhirnya dikorupsi aja sih.
  1. Semua guru di Finlandia dibiayai Pemerintah untuk meraih gelar Master. Gaji mereka juga termasuk dalam jajaran pendapatan paling tinggi di Finlandia.
    Disamping kesetaraan fasilitas dan sokongan dana yang mengucur dari pemerintah, penopang utama dari kualitas merata yang ditemukan di semua sekolah di Finlandia adalah mutu guru-gurunya yang setinggi langit. Guru adalah salah satu pekerjaan paling bergengsi di Finlandia. Pendapatan guru di Finlandia pun lebih dari dua kali lipat dari guru di Amerika Serikat. Tidak peduli jenjang SD atau SMA, semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah dan memiliki tesis yang sudah dipublikasi.
    Finlandia memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya. Maka dari itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan mutu tenaga pengajarnya. Tidak saja kualitas, pemerintah Finlandia juga memastikan ada cukup guru untuk pembelajaran intensif yang optimal. Ada 1 guru untuk 12 siswa di Finlandia, rasio yang jauh lebih tinggi dari pada negara-negara lain. Jadi guru bisa memberikan perhatian khusus untuk tiap anak, gak cuma berdiri di depan kelas.Jika Indonesia ingin semaju seperti Finlandia dalam urusan pendidikan, guru-guru kita selayaknya juga harus mendapatkan sokongan sebagus ini. Kalau perhatian kita ke guru kurang, kenapa kita menuntut mereka harus memberikan yang terbaik dalam proses pembelajaran? Tidak adil ‘kan?
  1. Guru dianggap paling tahu bagaimana cara mengevaluasi murid-muridnya. Karena itu, Ujian Nasional tidaklah perlu.
    Kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka. Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka. Bisa jadi gara-gara fleksibilitas dalam sistem pendidikan Finlandia itu, semua diversitas justru bisa difasilitasi. Jadi dengan caranya sendiri-sendiri, siswa-siswa yang berbeda ini bisa mengembangkan potensinya secara maksimal.
  1. Siswa SD-SMP di Finlandia hanya bersekolah 4-5 Jam/hari. Untuk siswa SMP dan SMA, Sistem Pendidikan mereka sudah seperti di bangku kuliah.
    Siswa-siswa SD di Finlandia kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Siswa SMP dan SMA pun mengikuti sistem layaknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang merasa terpaksa tapi karena pilihan mereka. Pendeknya jam belajar justru mendorong mereka untuk lebih produktif. Biasanya pada awal semester, guru-guru justru menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri. Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekedar tahu dan siap tapi juga tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri.
  1. Tidak ada sistem ranking di sekolah. Finlandia percaya bahwa semua murid itu seharusnya ranking 1.
    Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat jadi pintar. Tanpa terkecuali. Maka dari itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’. Walaupun ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, tapi mereka tetap ditempatkan dalam kelas dan program yang sama. Tidak ada juga program akselerasi. Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif. Bahkan anak dari kelas-kelas berbeda pun sering bertemu untuk kelas campuran. Strategi itu terbukti berhasil karena saat ini Finlandia adalah negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia.

DAN YANG PALING MENGEJUTKAN!!!

  1. Pendidikan di Finlandia mempraktikan ajaran Ki Hajar Dewantara. Mereka memakai filosofi “Tut Wuri Handayani.
    Finlandia memulai reformasi pendidikannya di tahun 1980-an dengan memikirkan ulang paradigma mendasar tentang persekolahan, konsepsi pengetahuan serta konsepsi pembelajaran. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Finlandia mempraktikkan filosofi yang pernah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara untuk mereformasi pendidikan 20 tahun silam. Sehingga, Indonesia juga harus menerapkan filosofi itu untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Tanah Air. Seperti negara Finlandia, melakukan perubahan dunia pendidikan selama 20 tahun sejak awal tahun 1980 sampai tahun 2000. Filosofi Ki Hajar Dewantara di sana dipraktikkan. Seharusnya kita bisa memulai dari titik yang sama. Bila tidak oleh pemerintah saat ini, maka kita patut berharap pada pemerintah berikutnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Seharusnya pendidikan di Indonesia lebih maju daripada pendidikan di negara lain.

Sementara di Indonesia, meski sudah ada Bantuan Dana Operasional Sekolah dan dana bantuan lainnya, kita masih tidak lepas dari cerita-cerita sedih tentang perjuangan mereka yang kesulitan meneruskan sekolah. Sebuah SMA Negeri di Jakarta, misalnya, “bertarif” mencapai belasan juta per tahunnya. Belum lagi Universitas Negeri yang menyediakan sedikit sekali beasiswa dibanding para mahasiswa yang membutuhkannya.

Emang sih kita gak bisa serta merta menyontek sistem pendidikan Finlandia dan langsung menerapkannya di Indonesia. Dengan berbagai perbedaan institusional atau budaya, hasilnya juga mungkin gak bakal sama.

Tapi gak ada salahnya ‘kan belajar dari negara yang udah sukses dengan reformasi pendidikannya. Siapa tahu bisa menginspirasi adminitrasi baru untuk mengadakan perubahan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik.